NATURE, SUISTANABLE, AND HARMONIC AGRICULTURE
Tampilkan postingan dengan label Study kasus. Tampilkan semua postingan
Tampilkan postingan dengan label Study kasus. Tampilkan semua postingan

Padi Organik: Petani untung, Lingkungan Sehat

Menanam padi organik kini bukan lagi impian bagi petani di seluruh Indonesia. Karena menanam pada secara organik, tidak hanya dapat meningkatkan produksinya hingga dua kali lipat dibanding cara tanam yang menggunakan pupuk kimia. Tapi juga membuat lingkungan di sekitarnya menjadi sehat. Karena tidak tercampur oleh pupuk kimiawi atau pestisida yang jelas merusak lingkungan.

Padi organik yang kini tengah dikembangkan menggunakan cara System of Rice Intensification (SRI). Beras organik hasilnya pulen dan bisa tahan tiga hari. Produksinya juga bisa dua kali lipat dibanding sistem tanam konvensional dimana padi SRI Organik ini menghasilkan 8-9 ton per hektar. Sedangkan sistem konvensional hanya 4-5 ton per hektar.

Kisah sukses Suroto kembangkan padi organik

Ketertarikan Suroto, warga Desa Sumberngepoh, Kecamatan Lawang, Kabupaten Malang, Jawa Timur menekuni padi organik bermula pada 1999, saat harga pupuk (kimia) melambung tinggi dan tidak terjangkau petani kecil. Dari situ kesadaran Suroto bangkit untuk mencoba mengembangkan pertanian organik tanpa butuh pupuk kimia.

"Saya berpikir bahwa orang zaman dulu dalam bertani tanpa menggunakan pupuk kimia dan panennya padi melimpah. Buktinya beras pada zaman Kerajaan Majapahit menjadi komoditas penting hingga dikirim ke luar Jawa," ujarnya.

Wawancara petani Austria


Pertanian organik telah dikenal di seluruh dunia sebagai cara untuk kembali ke gaya hidup yang alami, berkelanjutan, sehat, dan ramah lingkungan. Untuk program hari ini, kita akan mengunjungi perkebunan organik di Austria.
Pertanian organik tidak mengunakan pupuk kimia, pestisida, atau pupuk hewani. Tetapi perkebunan ini menghasilkan panen tahunan yang berlimpah. Mari kita bertemu dengan Helmut untuk mencari tahu bagaimana mewujudkannya.

Ujang, anak muda yang sukses mengembangkan pertanian organik


Petani konvensional di tanah Sunda umumnya mengenal falsafah ”kadenge, kadeuleu, karampa, karasa” atau mendengar, melihat, meraba, dan merasakan. Bagi Ujang Ahmad Zaenal Muttaqin, falsafah yang dianut oleh para petani tradisional tersebut menjadi hambatan serius ketika dia ingin mengajak mereka untuk bertani organik.
Para petani konvensional harus mendengar, melihat, dan meraba dulu baru mereka percaya terhadap teknologi baru dalam bertani. Susahnya minta ampun untuk meyakinkan petani konvensional bahwa bertani organik dengan cara budidaya baru itu merupakan cara terbaik guna meningkatkan kesejahteraan mereka,” kata Ujang, ayah dua anak ini.

Design by Chocrz Blue Ice | Blogger Template by Chocrz Blue Ice